“After the Cold War: the maturing of the Greater West Asian Crisis ” Fred Halliday, The Middle East in International Relations Power, Politics and Ideology the Contemporary Middle East (2005)

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/a/a6/Conflict_-_Middle_East_Political_Simulator_Coverart.png
By: Rakhmat Abril Kholis

       Pola interaksi hubungan internasional di kawasan Timur Tengah telah lama didominasi oleh ketidakpastian dan konflik berkepanjangan. Intervensi dari lingkungan eksternal, perang antar negara, stabilitas politik yang tak menentu, serta kekerasan antar etnik yang kesemuanya ini bersumber dari pengaruh dinamika harga minyak dunia, persaingan antar angkatan militer di dalam maupun antar negara, dan pergerakan ideologi yang mengatasnamakan agama.
 
         Dalam bagian tulisannya yang berjudul  After the Cold War: the maturing of the Greater West Asian Crisis ini, Fred Halliday menempatkan kawasan Timur Tengah dan konflik yang terjadi di dalamnya dalam dua kerangka analisa. Pada satu sisi ia menelisik tentang pengenalan karakter sejarah dan problem yang telah terjadi, dan di sisi lain ia mengangkat analisis dari perspektif latar politik yang terjadi di Timur Tengah serta lingkungan internasional yang turut memengaruhinya.           

       Berbicara tentang kawasan Timur Tengah maka tak dapat kita lepaskan dari runtutan peristiwa dimulai pada akhir masa Perang Dingin sampai dengan tahun 2000an. Empat peristiwa yang paling memengaruhi atmosfer sosial politik kawasan Timur Tengah hingga berdampak pada lingkungan global. Invasi Iraq pada Kuwait (1990), pengesahan Israeli-Palestinian Declaration of Principles (1993), serangan al-Qa’ida pada peristiwa 9/11 di AS, hingga pendudukan Anglo-AS di Iraq pada bulan Maret-April 2003. 

          Profesor Hubungan Internasional dari London School of Economics ini dalam karyanya memaparkan bahwa berakhirnya Perang Dingin mengindikasikan sebuah pola baru dalam hubungan internasional dan mengakibatkan dampak yang sangat signifikan bagi kawasan Timur Tengah. Uni Soviet yang semakin melemah dan munculnya AS sebagai satu-satunya kekuatan di dunia, berakibat pada terbukanya peluang yang sangat besar terkhusus untuk AS dalam merealisasikan kepentingannya di Timur Tengah terutama perihal minyak. Selain itu, usainya Perang Dingin ternyata memunculkan permasalahan yang lebih kompleks lagi bagi kawasan Timur Tengah. Banyak hal yang terjadi di luar kawasan, pada akhirnya menjadi tekanan bagi internal negara di Timur Tengah itu sendiri. Perseteruan global akibat pola interdependensi yang kuat menyebabkan banyak konflik kawasan terjadi serta-merta akibat pengaruh aliansi kekuatan para negara great power.

             Analisis yang dipaparkan oleh Halliday mengenai kondisi Timur Tengah pasca Perang Dingin (Cold War) sebenarnya tertuju pada dua bagian analisa isu. Pertama adalah sejauh mana kemungkinan untuk tetap membicarakan  gejolak politik yang sama terjadi di tiap negara kawasan Timur Tengah. Tiap negara dan tiap krisis yang terjadi mempunyai karakternya masing-masing. Apa yang terjadi di Timur Tengah kini faktanya merupakan akumalasi dari interaksi yang tidak harmonis antar negara di dalamnya akibat munculnya level aliansi dan rivalitas yang sudah terbentuk lama (popular sentiment).  Perang Teluk (1990-1991) tidaklah secara langsung akibat peristiwa 11 September 2001. Begitupun dengan konflik di Palestina bukanlah menjadi sumber tunggal ketidakstabilan di Timur Tengah. Maka dari itu dalam level negara ataupun masyarakat, peristiwa politik, stratejik, dan ketidakharmonisan relasi antar negara, telah menjadi bentukan atau akibat dari berbagai latar penyebab yang terjadi sebelumnya.

         Selanjutnya bagian analisis isu kedua yang diterangkan pada bab ini adalah tentang bagaimana tingkat pengaruh eksternal (external factor). Tidak dapat kita pungkiri dalam realita sejarah Timur Tengah sejak tahun 1760an, peristiwa pendudukan Napoleon ke Mesir (1798), hingga Perang Iraq (2003), menisyaratkan sebuah hipotesa kuat bahwasanya faktor eksternal menjadi determinan dalam kawasan ini. Namun yang perlu dikaji lagi ialah bagaimana dan seberapa jauh faktor ini memengaruhi struktur politik dan masyarakat kawasan. Pengaruh perdagangan dan keuangan global, intervensi militer, investasi, gaya hidup barat, internet, dan ditambah lagi dengan kondisi pemerintahan domestik yang tidak mencerminkan good governance, menjadi beberapa penyebab kuat situasi di kawasan Timur Tengah sekarang. Selain itu peran negara, kelompok-kelompok etnik, serta kepentingan politik dan bisnis para tokoh sentral kawasan seperti Muhammad Ali, Sultan Abdul Hamid, Naser-ad Din Shah, Theodor Herzl, Yasser Arafat, Ariel Sharon, Husni Mubarak, dan juga Osamabin Laden, menjadi sub-faktor yang memengaruhi struktur kawasan. 

            Pada akhirnya penulis memandang bahwa Fred Halliday sudah mampu membuka ruang analisa yang cukup menarik dalam menilai kondisi terkini kawasan Timur Tengah. Analisa yang dibingkai penuh lewat kacamata sejarah dirasa mampu membuka kepercayaan pembaca bahwa fase dinamika internasional masa lalu menjadi artian penting dalam memprediksi apa yang terjadi sekarang dan akan datang. Namun dalam beberapa hal, Fred Halliday terkesan sangat sporadis dalam merunut alur sejarah yang ada. Pada awal, tengah, dan akhir tulisan, akan kita dapatkan beberapa pengulangan fakta sejarah secara tidak sistemik. Akibatnya, secara konseptual sudah sangat kuat namun alur analisa yang dipaparkan cukup membuat pembaca kesulitan untuk memahaminya.    
Buat lebih berguna, kongsi:
close
CLOSE [X]