“Arab-Israel Conflict: Past, Present, and Future” Fred Halliday, The Middle East in International Relations Power, Politics and Ideology the Contemporary Middle East (2005)

By: Rakhmat Abril Kholis 

Bagian demi bagian cerita sejarah di kawasan Timur Tengah dari era Pasca Perang Dunia II hingga okupasi (occupation) Israel di Palestina menjadi irisan umum yang dijelaskan oleh Halliday pada bab ini.  Dimulai dari pecahnya perang Arab-Israel (pasca dikeluarkannya Resolusi PBB No. 181 tanggal 29 November 1947 hingga akhir masa kolonialisme Inggris dan masuknya tentara arab ke Palestina) yang banyak melibatkan berbagai negara Arab seperti Mesir, Yordania, Iraq, dan Suriah, hingga pada akhirnya Israel berhasil menguasai Jurussalem Timur, Gaza, Tepi Barat, dan beberapa wilayah lainnya menjadi awal perubahan landscape sosial politik Timur Tengah. 

Mulai masuknya tentara Israel ke tanah Palestina menjadi pertanda buruk bagi domestik Palestina sendiri.  Pada saat itu, persediaan senjata Palestina sangat minim ditambah hantaman kondisi perekonomian yang lemah. Sedangkan di sisi lain, Yahudi justru mengimpor senjata-senjata baru dan canggih dalam jumlah besar. Selain itu, konflik internal yang terjadi mengakibatkan kemunduran bagi Palestina khususnya pada pasca tewasnya Abdul Qadir Al-Husaini dalam pertempuran Al-Qasthal, dan dibunuhnya Dir Yasin oleh tentara Yahudi yang mengakibatkan ratusan korban tewas dari Palestina. Secara singkat, beberapa kota  penting di Palestina jatuh ke tangan Yahudi.
Pada awal-awal perang, pasukan Arab menunjukkan hasil yang cukup impresif. Tentara Mesir , Yordania, Iraq, dan Suriah secara langsung mampu menahan gempuran Israel di beberapa titik wilayah sekitar Palestina. Secara umum Palestina masih menguasai 80-82% luas wilayah hingga masuknya bala tentara negara-negara Arab. Posisi tentara Yahudi terancam di beberapa titik, namun di lain tempat mereka justru menguasainya seperti di sebagian utara Palestina pasca ditaklukannya kota Aka pada 17 Mei 1948. Pasca perang ini, bangsa Yahudi mengusir sekitar 800.000 penduduk dan 290.000 warga Palestina mengungsi serta dilarang untuk kembali sampai saat ini.
Perang antara Arab dengan Israel ternyata bukan hanya berdampak besar bagi Palestina, melainkan juga negara sekitarnya. Beberapa negara yang terlibat langsung maupun tidak terlibat sekalipun mengalami dampak perubahan yang signifikan pada tataran domestiknya. Perubahan sistem parlementer konstitusional Suriah menjadi pola pemerintahan militer pada 1949, munculnya gerakan pemberontakan untuk menggulingkan sistem monarki dalam negeri di Iran, hingga keberhasilan Mesir merebut kekuasaan Inggris dan mengganti sistem negaranya menjadi republik (1952).
Pada bagian selanjutnya, Halliday menggiring pembaca ke era pergerakan banyak pemimpin negara di sekitar Palestina demi menggalang dukungan elemen Timur Tengah untuk mendukung pembebasan Palestina. Hal ini dibuktikan dengan sikap pemimpin Mesir Gamal Abd Nasser (1966-1967)  melakukan kampanye mencari dukungan dari pan-Arab untuk menaklukkan Israel dan mengusir Yahudi. Sikap ini juga semakin diperkuat dengan masuknya Jordan dalam pakta pertahanan (30 Mei 1967 ) yang sebelumnya dibentuk oleh Mesir dan Syria. Mesir mulai melakukan mobilisasi pasukan di Sinai dan melintasi batas demiliterisasi yang disepakati dan mendekati perbatasan selatan Israel. 
Pergerakan yang sama juga dilakukan oleh Jordan, Syria, dan Lebanon. Pada saat bersamaan pasukan Jordan, Syria dan Lebanon mulai mengepung Israel dari arah timur dan utara. Dalam perang yang terkenal dengan sebutan perang enam hari tersebut Israel berhasil mengalahkan negara-negara Arab tetangga yang mengepungnya. Ketika perang berakhir, Israel berhasil menguasai West Bank dan Jerusalem timur (yang tadinya dikuasai Jordan) serta Gaza dan Sinai (yang dikuasai Mesir) dan dataran tinggi Golan. Pascaperang enam hari, fokus kelompok-kelompok perlawanan Palestina sedikit berubah, yaitu membebaskan Jalur Gaza dan Tepi Barat dari pendudukan Israel sebagai langkah awal kemerdekaan seluruh Palestina.
Persoalan utama yang terjadi antara Israel dan Palestina menurut Halliday adalah adanya perebutan status Jerussalem sebagai kota suci tiga agama. Saling klaim Jerusalem ini menjadi salah satu ganjalan dalam proses perdamaian di Timur Tengah hingga kini.Ganjalan lain yang menghambat proses perdamaian antara Israel dan Palestina adalah kebijakan Israel membangun permukiman Yahudi di wilayah pendudukannya.
Akhirnya, secara keseluruhan Halliday belum mampu mengkaji secara komprehensif berbagai persoalan yang terjadi di berbagai negara sekitar Timur Tengah terkhusus yang terlibat langsung pada saat perang Arab-Israel. Hal ini saya rasa penting untuk dimengerti oleh pembaca karena pergeseran peta sosial politik di suatu kawasan tidak akan mampu digambarkan hanya dengan menarik satu contoh negara saja. Selain itu, Halliday juga tidak secara eksplisit menjelaskan dinamika persoalan yang terjadi di Palestina dalam berbagai perspektif pendekatan. Akibatnya pembaca akan dibawa pada satu frame yang sama tanpa mampu mengelaborasi penyebab-penyebab konflik lain di sana.  
 
Buat lebih berguna, kongsi:
close
CLOSE [X]