“Identity and Foreign Policy in the Middle East” Shibley Telhami, Michael Barnett: Cornell University Press, Ithaca and London


   


    Reviewed by Rakhmat Abril Kholis[1]

Dalam membicarakan perihal Timur Tengah, para penstudi hubungan internasional kebanyakan terkurung dalam sebuah ruang lingkup pembahasan yang panjang terkait dinamika identitas politik disana. Persis setelah Perang Dunia II hingga sekitar tahun 1970an, perdebatan antar penstudi politik terfokus pada area naik turunnya gerakan Pan-Arab, kondisi banyaknya negara yang lemah secara power dalam sebuah kawasan, bayang-bayang kolonialisme, hingga yang menyangkut kedaulatan, legitimasi domestik, serta stabilitas politik negara di Timur Tengah. 

Akibat  peristiwa Perang Teluk (1991) dan beberapa dekade setelahnya, pengkaji politik internasional disimpulkan pada sebuah hipotesa singkat bahwa tiap-tiap negara di Timur Tengah memiliki kecenderungan kepentingan yang seragam. Stephen Walt’s dalam Theory of Alliances yang merupakan hasil modifikasi dari pemikiran Waltz, menerangkan konsep “balance of threat” yang menjadi dugaan terbaik dalam menilai pola kawasan Timur Tengah. Selanjutnya Stephen Walt menegaskan bahwa interaksi yang terjadi antar negara Arab akan tetap berkutat pada masalah identitas dan politik agama. Selain Walt, Shibley Telhami menerangkan ada beberapa peristiwa sejarah yang berpengaruh kuat dalam membentuk pola hubungan kawasan negara Arab antara lain, perjanjian Camp David, pengaruh ideologi politik dibawah kebijakan Israel, Amerika, dan Mesir, serta kisruh Arab-Israel yang juga belum usai hingga sekarang.

Banyak perspektif yang dapat menjadi pisau analisa dalam melihat kondisi kawasan Timur Tengah secara ideal. Perspektif sistemik dan rasionalis yang menggambarkan aturan dalam identitas politik dalam kebijakan luar negeri negara Timur Tengah, relasi antara politik identitas dan politik regional, perspektif konstruktifis yang berpusat pada adanya elemen normatif dan meterial dalam sebuah struktur internasional yang akhirnya memengaruhi identitas aktor serta kepentingannya. Konstruktifis sangat bertumpu pada konstruksi sosial kepentingan negara Arab, kedaulatan sebagai prinsip utama interaksi antar negara, serta pergeseran kepentingan negara-negara Arab yang disebabkan oleh bertransformasinya identitas nasional dari tiap negara Arab. Perspektif ini akhirnya menyimpulkan bahwa penyebaran identitas mampu menyebabkan konflik maupun kerjasama. 

Secara keseluruhan, karya ini sebenarnya merangkum dua konsep teori yang ditawarkan oleh dua penstudi polititik internasional. Telhami membangun argumentasinya lewat teori sistemik dalam hubungan internasional demi menjelaskan pentingnya pembangunan politik di Timur Tengah. Di lain pihak, Barnett mengambil peran dalam membangun paradigma konstruktifis demi menjelaskan fitur-fitur pokok dalam wilayah politik antar negara Arab. Latar karakter sosiologi dan organisasi kawasan dianggap oleh Barnett telah berkembang kedalam hubungan antara politik identitas dan kekuatan di area politik kawasan.  

Buku ini lebih lanjut menjelaskan bagaimana bentuk dan transformasi dari bangsa dan identitas negara yang berpengaruh pada kebijakan luar negeri negara-negara Timur Tengah. Secara spesifik, karya ini diharapkan mampu menjadi rujukan teoritis dan berkontribusi secara subtantif dalam memahami konteks kawasan Timur Tengah dalam hubungan identitas dan kebijakan luar negerinya. Mengkaji secara sistematik tentang regional, internasional, dan tekanan domestik yang terjadi di Timur Tengah. 

Buku yang berjudul “Identity and Foreign Policy in the Middle East” ini secara keseluruhan terdiri dari delapan bagian yang tiap bagiannya merupakan buah karya dari beberapa peneliti/penstudi politik dan hubungan internasional. Bagian pertama sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, penulis memberikan gambaran umum terkait identitas dan pengaruhnya dalam mengahasilkan kebijakan luar negeri tiap negara di kawasan Timur Tengah. Adanya perbedaan dan persamaan identitas apakah nantinya akan berpengaruh secara determinan terhadap pola hubungan antar negara di kawasan ini. Pada bagian kedua, akan dipaparkan contoh yang lebih spesifik bagaimana bentuk identitas dan kepentingan kerajaan Jordania (March Lynch). Bagian selanjutnya akan ada penjelasan oleh Michael Barnett tentang identitas negara Israel dan proses perdamaian yang terus diupayakan hingga kini. Hingga pada bab-bab berikutnya, buku ini menyajikan secara konkret realitas yang terjadi di beberapa negara sentral di kawasan Timur Tengah seperti kebijakan luar negeri Iran (Suzanne Maloney), pendefinisian ulang identitas polugri Iraq (Adeed Dawisha), evolusi identittas politik di Suriah (Vahya Sadowski), dan identitas serta kebijakan luar negeri Mesir (Ibrahaim A. Karawan). Semua tergambar dalam kerangka basis teoritikal yang baik dan mampu menjawab banyak pertanyaan serta anggapan lama tentang situasi sebenarnya di kawasan Timur Tengah.


                [1]Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UIN Syarif  Hidayatullah Jakarta Semester VI (1112113000029).
Buat lebih berguna, kongsi:
close
CLOSE [X]