Lingkungan Strategis dalam Pembentukan `Positioning` Organisasi



Sumber Gambar: (Anggy Yanuar, 2014)


Analisis Lingkungan Strategis dalam Pembentukan Positioning Organisasi:
Refleksi dari Karya Prof. Dr. J. Salusu, M.A
“Pengambilan Keputusan Stratejik untuk Organisasi Publik dan Organisasi Nonprofit”

oleh
Rakhmat Abril Kholis, S.Sos[1]

                                    “Suatu organisasi seperti sebuah kapal, perlu dikemudikan dengan baik jika ingin tiba di tempat tujuan – dan tujuan itupun harus dipilih dengan baik. Pengambilan keputusan stratejik adalah proses melihat ke depan untuk mengarahkan organisasi agar jalannya tidak goyah di tengah-tengah masalah dan krisis yang muncul seketika dari kegiatan setiap hari.”
_Prof. Dr. Herbert A. Simon

Aris Widodo dalam tulisannya yang berjudul “Lingkungan Strategik dan Geopolitik” menjelaskan analisis lingkungan strategis sebagai proses penyusunan asumsi-asumsi strategis dan pengujian dengan visi-misi organisasi demi memperoleh faktor penentu keberhasilan.[2] Sementara itu, Akdon dalam “Strategic Management for Educational Management” menjelaskan bahwa tujuan kegiatan telaah lingkungan strategis adalah untuk mengenali kekuatan dan kelemahan internal organisasi dan memahami peluang dan tantangan eksternal organisasi sehingga organisasi dapat mengantisipasi perubahan-perubahan di masa yang akan datang.[3]
Dalam kaitannya terhadap topik ini, Profesor J. Salusu memberikan sumbangan berharga kepada para akademisi tentang metode berpikir stratejik yang diterapkan dalam pengambilan keputusan (decision making) di lingkungan organisasi publik maupun organisasi nonprofit. Lebih lanjut, Profesor J. Salusu menulis sebuah arahan penting bagi konsep-konsep dasar yang harus dipahami dan diikuti apabila kita menginginkan suatu organisasi yang efektif mencapai hasil yang diinginkan demi pihak-pihak yang dilayaninya.[4]

Profesor J. Salusu mengartikulasikan lingkungan strategis dalam kacamata organisasi sebagai sekumpulan perangkat yang mengelilingi dan mempengaruhi perkembangan organisasi.[5] Analisis lingkungan strategis dilakukan untuk mengidentikfikasi berbagai peluang (opportunities) dan ancaman (threat). Peluang adalah kondisi-kondisi lingkungan umum yang dapat membantu organisasi untuk mencapai daya saing strategis. Sedangkan ancaman adalah kondisi-kondisi dalam lingkungan umum yang dapat mengganggu usaha organisasi dalam mencapai daya saing strategis. Ringkasnya, peluang dalam lingkungan eksternal mencerminkan kemungkinan, sedangkan ancaman adalah kendala potensial.[6] 
Selanjutnya menurut Bryson, pelaksanaan analisis lingkungan strategis merupakan bagian dari komponen perencanaan dan merupakan suatu proses untuk selalu menempatkan organisasi pada posisi yang strategis sehingga dalam perkembangannya akan selalu berada pada tempat yang menguntungkan. Ia mengemukakan dua analisis lingkungan yang harus dilakukan dalam menentukan positioning sebuah organisasi, antara lain:
1.      Analisis Lingkungan Strategis Eksternal;
2.      Analisis Lingkungan Strategis Internal.[7]

Pada alinea lain dalam karyanya, Bryson beriringan dengan Prof. J. Salusu. Mereka bersama mengurai tahapan-tahapan dalam melakukan analisa lingkungan strategis dalam pencapaian positioning yang tepat bagi organisasi, antara lain:
1.      Mengidentifikasi sumber-sumber untuk melakukan scanning. Sumber-sumber ini terdiri dari tiga level yakni task environment,organizational environment, dan macro environment;
2.      Melakukan scanning terhadap lingkungan internal dan eksternal organisasi;
3.      Melakukan analisis untuk menilai hasil scanning;
4.      Merumuskan hasil scanning untuk keperluan penentuan rencana aksi atau  (action plan).

Tulisan Profesor J. Salusu secara sistematis menyajikan pemaparan tentang pembangunan pondasi di tubuh organisasi hingga penalaran terhadap aspek lingkungan strategis dalam radius kerja sebuah organisasi sehingga dapat membantu organisasi dalam pencarian jati diri (positioning). Oleh karena itu, Freddy Rangkuti dan Heinz. W. bersama Haroold Koontz, memberikan tools atau metode dalam menganalisis lingkungan strategis sebuah organisasi. Pertama, Freddy Rangkuti menjelaskan pentingnya penggunaan pola analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) dalam mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi organisasi. Analisis ini membandingkan antara faktor eksternal peluang dan ancaman dengan faktor internal kekuatan dan kelemahan sehingga dapat diambil suatu keputusan strategis organisasi.[8] Kedua, Heinz. W. dan Haroold Koontz menawarkan metode analisis TOWS (Threat, Opporutnity, Weakness, Strength). Menurut mereka, metode SWOT Matrix kini mulai ditinggalkan. Ia menyatakan bahwa TOWS lebih relevan disebabkan lebih mengedepankan factor eksternal dibandingkan factor internal. Mereka terlebih dahulu mempelajari dan menginvestigasi peluang factor-faktor eksternal, karena dianggap bersifat lebih dinamis dan berdaya saing. Setelah itu, barulah dilakukan beberapa penyesuaian sampai perbaikan potensi internal untuk menciptakan peluang yang menguntungkan.[9]   


[1]Penulis merupakan mahasiswa pascasarjana Kajian Stratejik Ketahanan Nasional, Sekolah Stratejik dan Studi Global, Universitas Indonesia. Junior Researcher di Center for Information and Development Studies (CIDES) Indonesia.
[3]Akdon, Strategic Management for Educational Management, (Bandung: Alfabeta, 2007), hal. 107.  
[4]Larry G. Beall, testimoni untuk “Pengambilan Keputusan Stratejik untuk Organisasi Publik dan Organisasi Nonprofit”, (School of Business Virginia Commonwealth University, 2006).
[5]J. Salusu, Pengambilan Keputusan Stratejik: untuk Organisasi Publik dan Organisasi Nonprofit, (Jakarta: Grasindo, 2006), hal. 319.
[6]Koirul Umam, Telaah Lingkungan Strategik dan Lingkungan, (Jakarta, 2015)
[7]John M. Bryson, Strategic Planning for Public and Non Proft Organization: A Guide to Strengthening and Sustaining Organizational Achievement, (San Fransisco: Jossey-Bass Publishers, 1995), hal. 55-71.  
[8]Freddy Rangkuti, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1998), hal. 19.
[9]Heinz. W. dan Haroold Koontz, Essentials of Management: Seventh Edition, (Tata McGraw-Hill, 2008).
Buat lebih berguna, kongsi:
close
CLOSE [X]