"Walimah ataukah Walimah-an"

By: Rakhmat Abril Kholis

Beberapa saat tadi, diri ini disentakkan dengan sebuah tulisan yang cukup panjang dari teman seperjuangan. Bukan bagian isi dari tulisan itu yang terlalu menyulut hati, bukan pula karena empunya, atau karena gaya bahasanya. Bukan. Namun lebih karena bangunan ingatan bahwa ternyata sudah lama jari-jemari ini tak menuliskan kembali tentang bagaimana keadaan hati. 

21.21 WIB. Tepat pada pukul itu dimulailah paragraf ke dua dari tulisan ini. Ntah apa yang ingin kubisikkan denganmu kali ini. Terlalu kaku jika ku menceritakan tentang keadaan perkuliahan, ataupun kondisi kesibukan. Kali ini sedikit ku angkat narasi yang berbeda. Kembali dalam koridor yang bertemakan "cinta", namun "cinta" nya mereka. Bukan saya. Hehe 


Tepat sebulan yang lalu, seminggu yang lalu, enam hari yang lalu, lima hari yang lalu, empat hari yang lalu, tiga hari yang lalu, dua hari yang lalu, kemarin, sekarang, dan tepat esok. ya, esok. Hitungan mundur itu sangat ku rasakan keberadaannya. Hitungan mundur yang disertai dengan kemantapan iman, hijaban hati, tundukan mata, dan kuatnya keyakinan bahwa kan datang hari dimana diberikannya sisa separuh keislaman dari Tuhan sang penguasa zaman. 

Hitungan mundur itu bergetar hinggap di peraduan diri. Kuyakin di peraduan diri mereka berdua dan kita yang tahu betapa indahnya rasa yang mereka pendam hingga berakhir di tempat nan tenteram. Malam ini kembali ku katakan bahwa banyak yang 'cemburu' dengan kalian. Termasuk yang menuliskan cerita ini. :D 


"Walimah ataukah Walimah-an". Tak ada yang spesial dari judul cerita yang kubuat. Namun jika kau cermat berbahasa, maka dapat kau simpulkan adanya penyimpangan artian dari kedua term kata di atas. 


Kata 'Walimahan' seringkali terdengar di tiap akhir dari rangkaian hari dalam seminggu. Kata ini memang lazim digunakan oleh kaum-kaum 'ikhwah' perkotaan. Jarang ku dengar mereka menyebut "pergi kondangan" atau "pergi pesta" sebagaimana yang sering kudapati di kampung halaman. Mungkin karena tren kearab-araban yang mewabah para aktivis 'ikhwah' atau juga karena ingin terdengar lebih syar'i dan begitu sakral. 


Kata 'Walimah' kita maknai bersama sebagai 'pernikahan'. Namun, ada satu pertanyaan menarik. Berapa sering kau mendengar kalimat "Saya mau pergi ke walimah" dibanding dengan "Saya mau pergi ke walimahan". Hemm. Ku yakin rata-rata dari kita lebih sering mendengar kalimat yang kedua. 


Ya, ini yang kan kukaji kini. Kajian menurut pemahaman pribadi. Mainan, makanan, minuman, layangan, dll. Semua berakhiran -an. Dari contoh kata-kata di atas, dapat disimpulkan bahwa makna -an menerangkan ketegasan bahwa apa yang ditujukan adalah sebuah 'benda'. Benda yang mampu dilihat, dirasa, dan dipergunakan. 


Sekarang kita relevansikan dengan kata 'walimahan'. Walimah + an. Makna yang juga terasa sama di sini dengan contoh tadi. Juga menerangkan sifat kebendaan. Tepatnya menjelaskan 'tempat' atau 'kepemilikan'. "Saya sedang di walimahan..." atau "walimahannya kak...". Namun, tepatkah suatu hal yang sangat sakral diidentikkan dengan makna kebendaan atau malah kepemilikan. Miliknya siapa atau bendanya berbentuk apa? 


Aku yakin hingga paragraf ini pastilah kau mempertanyakan apalah gerangan kau mengkaji ini wahai Rakhmat Abril Kholis? Mungkin langsung kujawab saja, "iseng-iseng bermanfaat, hehe". 


Kata 'walimah' ataupun 'walimahan' kurasa tak menjadi masalah jika berada pada percakapan keseharian. Namun bisa menjadi masalah jika dibawa ke ranah perasaan. 'Walimahan' menjadi terkesan memaksakan bahasa, mengaburkan makna, membuat wujud suatu hal yang tak berwujud, dan... (apa (...) nya?). Maka makna 'walimah' atau pernikahan tadi seakan hanya sekadar agenda formalitas, seremonial, dan sifatnya cepat selesai dan cepat pula ditinggalkan. 'Walimahan' juga terkesan hanya sebagai momentum pencarian makan bagi para anak rantauan. Hehe 


Dengan kacamata berbeda ku coba memaknai fenomena penggunaan istilah ini dengan cermat. Pernikahan itu adalah ikatan. Ikatan kuat yang bukan hanya sekadar terpasangnya cincin di tiap jari pasangan, namun karena ikatan ini dibalut dengan ucapan kalimat sakti penggetar hati. Kalimat a'qad di atas dua kalimat syahadat. 


Maka lebih tepat menempatkan kata ' walimah' saja atau untuk lebih mencirikan keIndonesiaan gunakan kata "pernikahan". Itu yang menurutkan harus dibangun mulai dari sekarang. Atas dasar alasan pemaknaan dan memandang begitu indah serta sucinya momentum pernikahan. 


Inilah yang kusebut amal atas dasar cinta dan kepemahaman. Semua bersatu dan saling merindukan. Amal merindukan ilmu sehingga terciptalah ketepatan. Dan juga amal merindukan cinta agar terbitlah keindahan. 

Ciputat, 7 Juni 2014 

@rakhmat_abril
Buat lebih berguna, kongsi:
close
CLOSE [X]