"Hingga Tiba Saatnya Kau Bukan Sekadar Teman"

"Hingga Tiba Saatnya Kau Bukan Sekadar Teman"

By: Rakhmat Abril Kholis

Sabtu, 3 Rajab 1435 H. Kembali kupanjatkan. Semoga terdengar hingga bergetar di langit tujuh lapisan. "Allahumma baariklanaa fii rojaba wa sya'baan wa ballighnaa romadhoon". Rabbi... ku mohon sampaikan, pertemukan, dan istiqomahkan.

Ingin ku berbagi kebahagian kepadamu duhai kau teman suciku di bumi. Sebelumnya ku awali dengan kalimat lantang bahwa "Aku Mencintaimu Sebagaimana Cintaku pada Diriku". Itulah sabda Rasul yang sering kubisikkan ke telingamu. Hingga kau merasakan itu ataukah tidak tak menjadi persoalan bagiku.

Bahagia sekali diriku malam ini. Tahukah kau? Apa yang lebih terasa bahagia selain dipertemukannya saudara seagama. Ya, bahagia itu kembali terulang malam ini.


Ada yang beda, namun rasa itu belum terasa beda (kuharap jangan sampai beda). Melewati pertemuan malam ini dengan beberapa kabar gembira. Nonton bareng, guru baru, dan hadiah terutama.

Lagi-lagi angka "3" ketika bersanding selalu tampil bahagia. "Nonton bareng, guru baru, hadiah terutama". Itulah tiga kebahagiaan yang kulihat terpaut di wajah mereka malam ini. Belajar tak seperti biasa, terlebih diakhiri dengan hadiah dengan empat pertanyaan luar biasa. Sontak mereka gembira, namun di sudut sana ada yang masih "ngambek" karena tak kunjung ditunjuk oleh ke tiga kakaknya.

"Hingga Tiba Saatnya Kau Bukan Sekadar Teman". Mungkin kau bertanya apalah maksud dari judul ini. Terkesan memancing pria atau wanita tuk membaca karena daya tarik bahasanya. "Bukan Sekadar Teman". Penuh banyak artian dan kuyakin hanya kau yang pandai menerka yang tahu apa gerangan tulisan ini mengemuka.

Kerap kali teman sebayaku mempertanyakan sifatku. Mat... kenapa, kenapa, dan siapa? Maka hanya kujawab dengan balasan kata tak apa-apa, dan belum tahu siapa. Kau tahu, cerita ini kutulis sembari tersenyum tersipu namun tak malu.

Pertanyaan seperti itu sering kudapatkan di kala SMA dulu. Memang tak dapat kunafikan bahwa saat itulah aku merasakan menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang bisa mengartikulasikan rasa hingga masuk ke rongga jiwa. Manusia yang mampu menafsirkan bahasa kedekatan yang dibungkus kata 'persahabatan'. Lain SMA, maka lain pula ketika ku di sini. Di peraduan yang kembali ku istilahkan dengan sebutan "mahligai tanah rantauan".

Masa-masa SMA ialah masa dimana diri ini hanya mampu merasakan indahnya 'modernitas' si anak Rohis. Modernitas atau standarisasi yang secara tidak langsung menghalangi mereka dengan makhluk yang dinamakan 'Cinta'. Konstruksi ide inilah yang dibangun di seluruh elemen sekolah dimana Rohis (baca: Rohani Islam) itu berpijak. Ide untuk menahan hasrat "hingga tiba waktu yang tepat".

"Hingga tiba waktu yang tepat". Inilah kalimat kunci tulisanku hari ini. Tak ada unsur rangkaian kata imajinasi, retorika, atau malah bualan di sini. Ini semua kembali karena penolakan ku saat ini terhadap 'konstruksi ide' kala SMA dulu. Sekarang baru kupaham arti sebenarnya dari kata "penantian".

Boleh saja sekarang kau kuanggap teman. Namun nanti tiba saatnya kuharap lebih. Lebih dari sekadar teman. Teman yang biasa hanya bertatap kurang dua puluh empat jam dalam sehari, pada saatnya kuharap dua puluh empat jam pun terasa kurang atas semua kerinduan tuk terus dipertemukan.

Ku yakin kau yang saat ini membaca tulisan ini mengerti apa yang kumaksud. Hingga seharusnya kau juga mengerti bahwa antara awal dan inti dari tulisan ini adalah satu garis yang kuharapkan nanti.

Ketahuilah, aku juga manusia seperti biasa. Walau ku sering menyebutkan diriku dengan kalimat "bukanlah manusia seperti biasanya", namun untuk kali ini kutarik kalimat itu. Karena tak sesuai dengan apa yang ingin kusampaikan. Manusia biasa yang tahu dimana nantinya ia menempatkan rasanya ketempat yang dari dulu hingga kini ia cari.

Tak salah bila terbesit di hati ini kekaguman tersendiri kepada engkau yang pandai dalam menarasikan hati. Tak salah bila kau nantinya tak ku jadikan teman lagi. Di saat itu, Kau kujadikan 'Bukan Hanya Sekadar Teman'.

Untukmu yang nanti kan ku Khitbah

Ciputat, 3 Rajab 1435 H| 3 Mei 2014 | 02.09
Buat lebih berguna, kongsi:
close
CLOSE [X]