“Indonesia Executions: Brazil and Dutch Envoys Recalled”


“Indonesia Executions: Brazil and Dutch
  Envoys Recalled”[1]
   BBC News: Sunday, 18 January 2015

     Reviewed by Rakhmat Abril Kholis[2]

            Kebijakan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo terkait penolakan grasi eksekusi mati para terdakwa kasus penyebaran narkoba, mendapat perhatian yang tinggi dari publik internasional. Respon yang muncul dari dunia internasional salah satunya dapat dilihat dari pemberitaan yang dilansir oleh BBC News (bbcnews.com) pada hari Minggu lalu ini.

            Di awal pemberitannya, portal berita internasional yang sering dijadikan referensi utama bagi para pengkaji hubungan internasional ini menyoroti sebuah pernyataan singkat dari presiden Indonesia. “Saya tidak akan memberi ampunan sedikitpun pada tindak kriminal narkoba, karena dampak buruknya jauh lebih banyak.” Pernyataan inilah yang kini menjadi diskusi hangat terutama bagi beberapa negara yang warga negaranya mendapatkan sanksi eksekusi mati seperti Belanda, Australia, Brazil, dan beberapa negara lainnya. Bahkan  hingga menimbulkan respon yang begitu cepat bagi Belanda dan Brazil untuk memanggil duta besar mereka kembali ke negeri asalnya. 

            Pemberitaan yang dilansir oleh BBC News kali ini lebih tertuju kepada respon dari para petinggi negara yang secara umum mengritik Indonesia dengan membandingkan prinsip sovereignty and judicial system yang ada di Indonesia dengan alasan kemanusiaan (humanitarian reasons). Sebagaimana yang dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri Belanda Bert Koenders, bahwa “Eksekusi ini adalah bentuk hukuman yang tak berperikemanusiaan. Kebijakan yang tak mengedepankan martabat dan integritas manusia. Keputusan ini menjadi eksekusi hukuman mati yang pertama kalinya semenjak Presiden Joko Widodo menjabat.”  imbuhnya.  


            [1]Disadur dari bbc.com/news/world/..., pada Rabu, 21 Januari 2015.
        [2]Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UIN Syarif  Hidayatullah Jakarta Semester V. Peneliti Junior Center for Information and Development  Studies (CIDES) ICMI, Indonesia.

Buat lebih berguna, kongsi:
close
CLOSE [X]